Dengan
telah terakreditasinya Prodi S1 Teologi Akademik dan Prodi S1 PAK serta
Institusi, maka STT Arastamar Wamena akan kembali berupaya membuat terobosan
yang baru di mana akan segera membuka Program studi Baru yaitu Prodi PG PAUD.
Pembukaan Prodi Baru ini juga sejalan dengan RENSTRA STT Arastamar Wamena yakni
Renstra 2012-2016: mengupayakan
pembukaan prodi baru, Renstra 2016-2020: mempersiapkan pembukaan prodi baru dan
Renstra 2020-2024: pembukaan prodi baru. Artinya, dengan memperhatikan tiga
tahapan Renstra di atas, STT Arastamar Wamena telah mengalami kemajuan dan
lompatan prestasi pengelolaan yang luar biasa.
Dengan
demikian, urgensi penyelenggaran program studi PG PAUD ini bagi kepentingan STT
Arastamar Wamena adalah :
Ø Suatu upaya mempercepat
peralihan/peningkatan status dari Sekolah Tinggi menuju Institut Agama Kristen
sebagaimana terkandung dalam RENIP STT Arastamar Wamena. Oleh karena itu,
pengusulan penambahan program studi baru akan terus dilakukan dalam jangka
waktu 1-2 tahun ke depan demi tercapainya peralihan/peningkatan status
tersebut;
Ø Adanya peluang di mana Di Provinsi Papua dan Papua
Barat, hanya di Universitas Cenderawasih (UNCEN) Jayapura yang telah membuka
Program Studi PG PAUD jenjang Diploma II. Khusus PTT/AK, hanya STAKPN Sentani,
STIPAK Arastamar Grimenawa, dan STT Arastamar Wamena yang telah membuka
konsentrasi Pendidikan Guru PAUD sesuai Peraturan Menteri Agama Republik
Indonesia (PMA RI) Nomor 33 tahun 2016. Minimnya prodi dan
konsentrasi PG PAUD di Provinsi Papua dan Papua Barat berbanding terbalik
dengan jumlah lembaga PAUD yang terus bertambah. Khususnya di Pegunungan Tengah
Papua lembaga PAUD berjumlah + 250 buah. Dengan
menganalisis peluang besar tersebut maka STT Arastamar Wamenamengusulkan
pembukaan program studi PG PAUD.
Ø Sejalan dengan diberlakukannya PMA Nomor 33 tahun 2016, STT Arastamar Wamena sejak 2016 telah membuka dua
konsentrasi yaitu Konsentrasi PG PAUD dan Konsentrasi Administrasi Pendidikan.
Sejak dibuka dalam bentuk konsentrasi, animo calon mahasiswa begitu tinggi,
akan tetapi oleh karena masih dalam bentuk konsentrasi, maka STT Arastamar
Wamena masih membatasi jumlah mahasiswa peminat;
Ø Sesuai visi dan misi STT Arastamar Wamena,
salah satu nilai yang terkandung di dalamnya adalah upaya mempersiapkan tenaga
pendidik yang profesional dan berkompeten di bidangnnya mutlak dilakukan,
mengembangkan penelitian unggulan demi pengembangan institusi serta
meningkatkan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan pendidikan dan penelitian
yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
a.
Kedua,
bagi kepentingan masyarakat;
Adapun
Urgensi penyelenggaraan ditinjau dari kepentingan masyarakat yaitu:
Ø Tahun-tahun
pertama kehidupan anak merupakan kurun waktu yang sangat penting dan kritis
dalam hal tumbuh kembang fisik, mental, dan psikososial, yang berjalan
sedemikian cepatnya sehingga keberhasilan tahun-tahun pertama untuk sebagian
besar menentukan hari depan anak. Kelainan atau penyimpangan apapun apabila
tidak diintervensi secara dini dengan baik pada saatnya, dan tidak terdeteksi
secara nyata mendapatkan perawatan yang bersifat purna yaitu promotif,
preventif, dan rehabilitatif akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
anak selanjutnya.
Penyelenggaraan pendidikan
pada anak usia dini di negara maju telah berlangsung lama sebagai bentuk
pendidikan yang berbasis masyarakat (community
based education), akan tetapi gerakan untuk menggalakkan pendidikan ini di
Indonesia baru muncul beberapa tahun terakhir. Hal ini didasarkan akan
pentingnya pendidikan untuk anak usia dini dalam menyiapkan manusia Indonesia
seutuhnya, serta membangun masa depan anak-anak dan masyarakat Indonesia
seluruhnya. Namun sejauh ini jangkauan pendidikan anak usia dini masih terbatas
dari segi jumlah maupun aksesibilitasnya. Misalnya, penitipan anak dan kelompok
bermain masih terkonsentrasi di kota-kota. Padahal bila dilihat dari tingkat
kebutuhannya akan perlakuan sejak dini, anak-anak usia dini di pedesaan dan
dari keluarga miskin jauh lebih tinggi guna mengimbangi miskinnya rangsangan
intelektual, sosial, dan moral dari keluarga dan orang tua.
Ø Sebagian
besar masyarakat berpendapat bahwa memberikan pendidikan anak usia dini cukup
dilakukan oleh orang dewasa yang tidak memerlukan pengetahuan tentang PAUD. Selain itu
juga mereka menganggap PAUD tidak memerlukan profesionalisme. Pandangan tersebut adalah keliru.
Jika PAUD ingin dilakukan di
rumah oleh ibu-ibu sendiri, maka ibu-ibu itu perlu belajar dan menambah
pengetahuan tentang proses pembelajaran anak, misalnya dengan membaca buku,
mengikuti ceramah atau seminar tentang PAUD.
Kenyataannya semakin banyak ibu-ibu bekerja di luar
rumah, oleh karena itu haruslah orang yang menggantikan peran ibu tersebut
memahami proses tumbuh kembang anak.
Pembelajaran pada anak usia dini adalah proses
pembelajaran yang dilakukan melalui bermain. Ada lima karakteristik bermain
yang esensial dalam hubungan dengan PAUD (Hughes, 1999), yaitu: meningkatkan
motivasi, pilihan bebas (sendiri tanpa paksaan), non linier, menyenangkan dan
pelaku terlibat secara aktif.
Bila salah satu kriteria bermain tidak terpenuhi
misalnya guru mendominasi kelas dengan membuatkan contoh dan diberikan kepada
anak maka proses belajar mengajar bukan lagi melalui bermain. Proses belajar
mengajar seperti itu membuat guru tidak sensitif terhadap tingkat kesulitan
yang dialami masing-masing anak.
Ketidaksensitifan orangtua terhadap kesulitan anak
bisa juga terjadi, alasan utama yang dikemukakan biasanya karena kurangnya
waktu karena orangtua bekerja di luar rumah.
Memahami perkembangan anak dapat dilakukan melalui
interaksi dan interdependensi antara orangtua dan guru yang terus dilakukan
agar penggalian potensi kecerdasan anak dapat optimal. Interaksi dilakukan
dengan cara guru dan orangtua memahami perkembangan anak dan kemampuan dasar
minimal yang perlu dimiliki anak, yaitu musikal, kinestetik tubuh, logika
matematika, linguistik, spasial, interpersonal dan intrapersonal, karena pada
umumnya semua orang punya tujuh intelegensi itu, tentu bervariasi tingkat
skalanya.
c.
Ketiga,
bagi kepentingan bangsa;
Untuk
memperkuat kemampuan tenaga pengajar di pedesaan, baru-baru ini pemerintah
Indonesia meluncurkan sebuah program yang bertujuan untuk mengatasi tantangan
pendidikan anak usia dini. Sekitar 15 ribu guru di 25 kabupaten di
Indonesia ditargetkan akan menerima pelatihan berstandar nasional dalam program
kolaborasi pemerintah, bernama Program PAUD Generasi Cerdas Desa.
Dengan dukungan
pendanaan oleh Pemerintah Australia (DFAT), pemerintah meluncurkan program
Generasi Cerdas Desa, yang juga didukung oleh Bank Dunia.
Program
Generasi Cerdas Desa tidak dibangun dari nol, melainkan dari program yang sudah
ada. Program terpadu ini merupakan gabungan tiga program pemerintah, yaitu
program Generasi Sehat Cerdas di bawah Kementerian Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal, dan Transmigrasi; program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD); dan
program peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan di bawah Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan.
Para guru akan
menjalani pelatihan ketat dalam empat tahap. Pertama, mereka harus mengikuti
program diklat dasar selama 48 jam, yang diselenggarakan oleh Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan. Kedua, mereka melakukan tugas mandiri selama 200 jam
di desa masing-masing. Ketiga, mereka akan menerima dukungan untuk bisa
menghadiri forum guru PAUD di ibukota kabupaten, dan setelah itu setiap guru
akan dikunjungi oleh pelatih dan menerima masukan terkait kinerja mereka.
Kolaborasi antara
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), dengan dukungan Bank Dunia dan Pemerintah
Australia melalui DFAT (Department of Foreign Affairs and Trade),Program
PAUD Generasi Cerdas Desa bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan
pendidikan usia dini, terutama untuk masyarakat miskin, guna memperluas
kesempatan mereka di masa depan.
Program di atas
merupakan upaya merealisasikan NAWACITA Presiden 2015-2019, RPJMN 2015-2019 dan
Misi KEMDIKBUD.
Leave a Reply